Aspek-aspek Perubahan dalam Pendidikan Feminis

Terinspirasi oleh tulisan St Sunardi (2002) dalam artikelnya yang berjudul Mencari Profil Pendidikan Kritis, KAPAL Perempuan mencoba mengembangkan aspek-aspek perubahan ini yang penamaannya hampir mirip atau bahkan sama seperti yang diperkenalkan oleh St Sunardi tetapi dengan uraian yang berbeda karena dikontekskan dengan pengalaman KAPAL selama ini.

Pendidikan feminis dapat dikatakan berhasil jika aspek-aspek penting dalam individu berubah. Aspek-aspek ini meliputi (1) aspek kesadaran, (2) aspek komitmen, (3) aspek politis, dan (4) aspek budaya.

Aspek Kesadaran

Penindasan yang terjadi pada perempuan sangatlah kompleks. Perempuan ditindas karena jenis kelamin, kelas sosial, suku, dan rasnya. Namun penindasan karena jenis kelamin ini merupakan hal spesifik yang dialami perempuan karena proses penindasan ini tidak dialami oleh laki-laki. Tetapi menariknya, justru proses penyadaran akan ketertindasan berdasarkan jenis kelamin ini sangatlah sulit karena kuatnya pemahaman bahwa laki-laki dan perempuan mamang berbeda. Akibatnya perempuan menganggap ketidakadilan yang dialaminya adalah sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan dan dicarikan jalan keluarnya. Hal itu dianggap alamiah dan wajar.

Pendidikan feminis ingin mendobrak kesadaran palsu tersebut dan membangun kesadaran kritis perempuan bahwa mereka tertindas karena struktur sosial, budaya, kelas, etnis/ras, dan jenis kelaminnya. Kuatnya konstruksi masyarakat mengenai perbedaan peran laki-laki dan perempuan menyebabkan pendidikan feminis tidak hanya berperan memberikan pengetahuan tapi juga mendorong tumbuhnya perasaan tidak adil di kalangan perempuan atas perlakuan yang diterimanya. Ketidakadilan yang dialami perempuan sungguh dirasakan ada di dalam dirinya, bukan sesuatu yang terjadi di luar dirinya. Kesadaran akan ketertindasan dirinya ini akan membuat orang selalu merasa gelisah untuk mempertanyakan segala sesuatu yang dirasakannya tidak adil.

Aspek Komitmen

Aspek komitmen akan terbangun jika sudah adanya kesadaran akan ketertindasan sebagai perempuan. Dengan menyadari ketertindasan dirinya maka perempuan akan lebih mudah membangun perlawanan. Perlawanan ini membutuhkan komitmen, keteguhan, niat, dan kesanggupan untuk menerima risiko dari hal yang diperjuangkannya. Kesulitan terbesar dari komitmen ini adalah perempuan dituntut untuk bertindak sesuai dengan hal yang diyakininya. Aspek komitmen ini penting karena kesadaran akan ketertindasan saja tidak cukup jika tidak membawa orang tersebut pada semangat untuk memperjuangkannya. Jadi komitmen berarti kesadaran yang sudah terimplementasi dalam tindakan.

Komitmen ini paling berat jika dihadapkan justru pada orang-orang terdekat seperti keluarga dan pasangan hidup. Banyak orang yang dapat bersuara keras dan berjuang dengan gigih di dalam masyarakat tapi di dalam keluarga atau dengan orang terdekatnya justru tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka lebih baik diam dan menjalani kehidupan seperti biasanya meskipun itu bertentangan dengan kesadarannya.

Aspek Politik

Perjuangan politik dalam konteks pendidikan feminis tidak sama dengan pemahaman politik pada umumnya. Perjuangan politik bagi feminis tidak hanya menyangkut kehidupan politik publik yang harus melibatkan berbagai kelompok dan bersifat masif. Membuka pengalaman dirinya sebagai orang yang tertindas di dalam keluarga sudah dapat dianggap berpolitik. Selama ini permasalahan perempuan selalu dianggap kasuistik, artinya hanya dialami orang tertentu saja. Meskipun anggapan itu tidak benar, namun telah menumbuhkan kesadaran bahwa persoalan yang dialami satu orang tetap saja merupakan persoalan dan tidak dapat ditiadakan begitu saja. Perkosaan yang dialami satu orang perempuan tetap saja merupakan perkosaan yang harus disikapi. Politik di sini tidak hanya ketika melibatkan ribuan orang. Seseorang harus didorong untuk berani memperjuangkan kepentingannya meskipun dianggap kepentingan segelintir orang. Keberanian berjuang dimulai dari diri sendiri pada gilirannya akan mendorong perjuangan kolektif karena adanya pengalaman ketertindasan yang sama.

Aspek Budaya

Pendidikan feminis melihat budaya menjadi sesuatu yang dinamis yang senantiasa mengalami perubahan yang mengarah pada perubahan lebih baik. Jika dalam suatu masyarakat budaya yang ada justru melakukan ketidakadilan terhadap perempuan maka perubahan budaya merupakan suatu keharusan. Perempuan yang menjadi korban penindasan dapat membangun budaya sendiri yang membawa kesetaraan bagi semua pihak. Pendidikan feminis mendorong perempuan untuk mengembangkan budaya yang terbuka. Kebudayaan yang diciptakan tidak dianggap sebagai yang paling baik namun senantiasa mengembangkan nilai-nilai pluralisme di dalam dirinya.

Sumber: Modul Pelatihan untuk Menumbuhkan dan Meningkatkan Sensitivitas Keadlian Gender