Jurnal Samudra No. 1

Mengeluarkan sebuah jurnal bukan pilihan mudah bagi KAPAL Perempuan. Format jurnal, sebagaimana dikatakan oleh Daniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan, Dalam Negara Orde Baru(2003) tak terhindarkan mengandalkan dan menyasar pada sektor terdidik, yaitu klas terpelajar yang mampu melakukan kontemplasi dan memberikan pemikiran-pemikiran alternatif. Dan ini tentu saja menjadi beban tersendiri bagi KAPAL Perempuan yang berorientasi pada aktivisme dan populisme, dan sejauh mungkin menghindari elitisme dan eksklusifisme. Akan tetapi pada saat bersamaan, khususnya dalam konteks Indonesia krisis saat ini dimana pemikiran-pemikiran alternatif mandeg karena para cendekiawan lebih sibuk menjawab pertanyaan pers dibandingkan menjawab pertanyaan rakyat kecil, dibutuhkan ruang-ruang ekspresi bagi berkembangnya wacana kritis yang pada tingkat tertentu mensyarakatkan kedalaman perenungan. Di tengah tarik menarik inilah KAPAL Perempuan memberanikan diri untuk membuat sebuah jurnal yang diberi nama Jurnal Samudera. Sebuah jurnal yang jauh dari tendensi untuk menjadi elitisme, tetapi mencoba menjadi bagian dari pemberhentian sejenak atau refleksi dari aksi berkesinambungan yang tak kunjung henti dilakukan oleh rakyat kecil, perempuan, aktivis, dan kaum terpelajar.

Mencoba menjadi populis berarti harus berkonteks pada situasi dan kondisi masyarakat yang nyata. Oleh karena itu, KAPAL Perempuan dengan segala keterbatasannya dalam membaca dan meraba situasi, mempunyai kesimpulan sementara bahwa isu pluralisme dan pendidikan alternatif merupakan isu-isu krusial dalam konteks kekinian Indonesia yang diwarnai oleh kemiskinan, terkotak-kotaknya masyarakat berdasarkan suku dan agama, tingginya korupsi yang sudah pada tingkat memuakkan, kekerasan, dan menguatnya politik identitas. Kedua isu ini berkaitan satu sama lainnya. Pluralisme dalam arti luas, yaitu keberagaman dalam banyak hal, tidak akan terwujud dan terkuatkan tanpa adanya proses-proses pembelajaran yang memanusiakan manusia, memerdekakan, membangun keberagaman pilihan sekaligus menghargai pilihan orang lain, yang kesemuanya ini diproses dan dihasilkan oleh pendidikan-pendidikan alternatif. Isu pluralisme dan pendidikan alternatif inilah yang menjadi tema pokok dari Jurnal Samudra. Tema-tema khusus dari keduanya digali KAPAL Perempuan dari serangkaian diskusi bulanannya tentang pluralisme yang telah dilakukan sejak tahun 2000 sebagai bagian dari usaha KAPAL untuk membangun komunitas kritis yang concern pada isu pluralisme dan pendidikan alternatif.

Dalam edisi perdana Jurnal Samudra ini, identitas dan keterkaitannya dengan globalisasi, politik identitas, dan stigmatisasi diangkat sebagai tema utama yang ditulis secara cukup mendalam oleh Maneke Budiman, St. Sunardi, dan Thung Ju Lan. Ketiga tulisan ini diharapkan dapat merangsang pemikiran-pemikiran kritis lainnya dan sedikit banyak dapat dipakai untuk memahami mengapa kekerasan dengan segala wajahnya mudah terjadi di bumi ini. Terlalu berlebihan jika dikatakan jurnal ini akan turut menyumbang terbangunnya budaya wacana kritis di Indonesia, tetapi minimal jurnal membuka ruang bagi siapa saja untuk membagi analisis kritisnya dalam memandang dunia. Tentu saja, tidak diharapkan Jurnal Samudra ini haya datang sekali untuk kemudian hilang. Elan membanguni kerja keras, dan solidaritas menjadi prasyarat yag tak dapat ditampik. Tetapi antusiasme dari publik terhadap jurnal ini akan menjadi pendorong utamanya.

jurnal-samudera_1_resize