Memaknai Feminisme Dan Pluralisme Dalam Perkawinan Beda Agama

Buku “Tafsir Ulang Perkawinan Lintas Agama” hadir untuk membuka diskusi tentang keberagaman di Indonesia yang terkait dengan perkawinan. Meskipun perkawinan merupakan peristiwa umum dan dianggap biasa tetapi mempunyai kompleksitas yang tinggi sehingga selalu penting untuk didiskusikan. Apalagi jika menyangkut perkawinan dari pasangan yang berbeda agama yang sekarang semakin ditolak dengan menguatnya politik identitas.

Perkawinan beda agama merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk dan beragam. Perkawinan beda agama menjadi isu yang sensitif sebab berseberangan dengan ajaran agama yang bersifat dogmatis dan sudah mengakar pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Situasi ini semakin diperkuat oleh negara melalui UU. No. 1/1974 tentang Perkawinan karena mengabaikan fakta yang ada dengan tidak memberikan tempat bagi pasangan yang berbeda agama.

Alasan judul buku ini sebagai “Tafsir ulang” karena pandangan berbagai ulama dan agamawan juga beragam tentang perkawinan berbeda agama. Buku ini ingin menyampaikan bahwa tafsir dan cara pandang itu tidak tunggal dalam melihat dan memaknai suatu hal, seperti perkawinan karena setiap peristiwa berada dalam waktu dan konteks yang berbeda. Buku ini bertujuan agar para pembaca mulai terbuka wawasannya untuk menerima dan mendiskusikan berbagai pandangan sehingga dapat memperkuat perjuangan untuk keadilan, perdamaian, persaudaraan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat plural.

Selain menyisipkan kisah pribadi dari pasangan berbeda agama yang sudah melangsungkan perkawinan, buku ini juga menghadirkan perspektif agama-agama meskipun masih terbatas pada pandangan agama Islam, Katolik dan Kristen Protestan saja. Yang membuat buku ini menjadi istimewa adalah meletakkan perspektif perempuan dan pluralisme sebagai cara pandang pembahasannya yang juga menjadi core atau kajian utama Institut KAPAL Perempuan sebagai penerbit.

Mengapa perspektif perempuan diperlukan? Seperti yang dituliskan oleh Yanti Muchtar dalam “Prakata: Sudah Saatnya Membicarakan Perkawinan Lintas Agama Secara Terbuka”, perempuan dalam berbagai konteks digunakan sebagai simbol suatu komunitas/kelompok atau sebagai penjaga keutuhan kelompoknya. Jika suatu kelompok ingin menonjolkan identitas tertentu maka yang diatur pertama kali adalah perempuan. Tulisan Ester Mariani Ga, “Perempuan, Perkawinan, dan Agama-agama: Melintas Batas”, membahas secara kritis perspektif feminis dari pandangan Kristen mengenai alkitab. Perempuan dalam perkawinan digambarkan sebagai subordinat dan menjadi objek kendali laki-laki.

Jadi kehadiran buku ini, selain membuka sekat-sekat yang beku, menghadirkan yang lain tidak dengan kebencian dan penolakan tetapi sebagai sesuatu yang bisa dipertanyakan, digugat dan kemudian diterima menjadi alternatif juga memberikan ruang yang lebih adil dan setara terhadap perempuan dalam relasi perkawinan.