Modul Pendidkan Feminis (Pendidikan Adil Gender untuk Kelompok Marjinal)

Pendidikan Adil Gender, Hentikan Feminisasi Kemiskinan

Modul Pendidikan Adil Gender ini hadir pada tahun 2006 sebagai kegelisahan terhadap situasi kemiskinan perempuan. Pembangunan yang mendasarkan diri pada modernisasi yang telah berjalan hampir 40 tahun masih belum mampu mensejahterakan perempuan dan tingkat kedalaman perempuan semakin meningkat. Indikatornya adalah tingginya angka kematian ibu melahirkan, buta huruf dan putus sekolah, pernikahan usia anak, rendahnya pendapatan perempuan dan tingginya trafiking perempuan dan anak perempuan. Inilah yang disebut sebagai feminisasi kemiskinan, di mana pemiskinan perempuan terjadi bukan hanya karena struktur dan kebijakan tapi juga karena ada relasi gender yang menempatkan perempuan tersubordinasi. Perkawinan pada usia anak yang merenggut perempuan dari akses pendidikan adalah contoh dari feminisasi kemiskinan.

KAPAL Perempuan, melihat bahwa kemiskinan perempuan ini juga menjadi kegelisahan para feminis dan mereka mencoba untuk menganalisis lebih jauh feminisasi kemiskinan tersebut dari berbagai perspektif. Walaupun hasil analisis ini beragam tetapi ada benang merah yang menyatukan mereka, yaitu mereka percaya bahwa kegagalan pembangunan untuk mensejahterakan perempuan bersumber dari ketidakmampuan para pendukung pembangunan untuk mengenali subordinasi perempuan dalam masyarakat patriarkis sebagai faktor utama. Tidak seperti laki-laki yang dibawa ke dalam pembangunan sebagai kepala rumah tangga dan agen yang produktif, perempuan dilihat sebagai istri, ibu, dan agen reproduksi. Tentu saja dengan sendirinya perempuan termarginalkan dalam proses pembangunan karena target utamanya memang adalah populasi laki-laki.

Upaya untuk membawa analisis-analisis feminis ke dalam perbincangan pembangunan sudah dilakukan sejak tahun 1970an. Misalnya saja Ester Boserup dalam bukunya yang berjudul Women’s Role in Economic Development (1970) menantang asumsi bahwa perempuan hanya kontributor kedua dalam keluarga dan sangat bergantung pada suaminya. Melalui karyanya, Boserup memberikan fakta bertapa pentingnya peran perempuan Dunia Ketiga dalam produksi pertanian, khususnya di Afrika dimana dia melakukan penelitian. Asumsi bahwa perempuan hanyalah agen reproduktif terbantahkan dengan sendirinya. Setelah Boserup, upaya pengembangan analisis dan aksi untuk mengentaskan kemiskinan perempuan tersebut terus berlanjut hingga kini. Salah satu strategi yang diperkenalkan dan banyak diterapkan saat ini adalah pengembangan pendidikan alternatif untuk melawan pemiskinan perempuan. Pendidikan perempuan dikembangkan menjadi sebuah proses pembelajaran yang memberdayakan, bertujuan mengembangkan inisiatif-inisiatif perempuan untuk mensejahterakan diri, keluarga, dan komunitasnya.

Dalam upaya memperkuat gerakan pendidikan perempuan itulah, KAPAL Perempuan mengembangkan model pendidikan untuk perempuan marginal di perkotaan dan pedesaan yang disebut sebagai Pendidikan Adil Gender (PAG) untuk Perempuan Marginal. PAG ini mencoba untuk mengintegrasikan proses peningkatan pemikiran kritis, keahlian hidup, dan pengorganisasian perempuan di komunitas. Diharapkan melalui pengintegrasian ini otonomi tubuh dan otonomi politik perempuan marginal dapat dimunculkan dan diperkuat yang pada gilirannya akan membangun daya tawar perempuan di dalam hubungannya dengan suami, keluarga, dan komunitas. Dengan kata lain, perempuan tidak hanya terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan di ranah domestik dan publik tetapi juga memiliki kontrol atas tubuhnya sendiri serta atas keluarga dan komunitasnya.

PAG ini sudah diterapkan di tiga komunitas miskin, yaitu di dua komunitas miskin di Jakarta, di Kampung Jati dan Ciliwung sejak tahun 2003 serta satu komunitas miskin desa di Pulau Nain, di Sulawesi Utara, pada tahun 2005. Untuk memperluasnya agar dapat direplikasi oleh siapa pun yang hendak mengembangkan PAG itu, KAPAL Perempuan memberanikan diri untuk mempublikasi modul PAG ini yang disusun berdasarkan penerapan di tiga komunitas tersebut. Saat ini modul ini digunakan untuk pendidikan perempuan di 25 desa/kelurahan di NTT, NTB, Sulsel, Jakarta, Sumbar, Jatim dan DKI Jakarta yang meliputi wilah miskin perkotaan, wilayah terpencil kepulauan, desa di dataran tinggi kering, rentan bencana dan dengan adat istiadat dan agama yang kuat.

Perluasan PAG ke berbagai wilayah ini, selain untuk memperkuat kepemimpinan perempuan agar partisipasinya meningkat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan pembangunan juga merupakan upaya KAPAL Perempuan untuk membantu pencapaian target Education for All (EFA) atau Pendidikan Untuk Semua (PUS) yang ditandatangani di Jomtien tahun 1990 dan Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2000 yang telah ditandatangani juga oleh pemerintah Indonesia. Kedua deklarasi ini telah menandakan negara-negara yang telah menandatanganinya untuk memastikan terhapusnya kesenjangan gender di semua level pendidikan dan meningkatnya 50% perempuan melek huruf pada tahun 2015. Tetapi Indonesia tampaknya masih jauh dari tujuan-tujuan tersebut, terindikasi dari masih tingginya angka buta huruf perempuan dan masih rendahnya partisipasi perempuan dalam pendidikan khususnya di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke atas. Maka, bagi KAPAL Perempuan, masih menjadi pekerjaan penting untuk terus memperluas penjangkauan Pendidikan Adil Gender ini untuk perempuan miskin yang terpinggirkan.

Tujuan-tujuan tersebut tidak akan mungkin terlaksana jika tidak ada berbagai pihak yang membantu penyusunan dan penerbitan modul ini. Untuk itu, pertama-tama kami ucapkan terima kasih kepada ACCESS – AusAid atas kerjasamanya selama ini yang memungkinkan terlaksananya uji coba PAG di Jakarta dan Sulawesi serta terbitnya modul ini. Kedua ucapan terima kasih kami tujukan kepada PILAR Perempuan di Sulawesi Utara yang telah berkenan bekerjasama dengan kami untuk menguji-cobakan modul PAG untuk Perempuan Marginal ini di Pulai Nain. Ketiga, penghargaan kami sampaikan kepada Sekolah Perempuan Kampung Jati dan Sekolah Perempuan Ciliwung di Jakarta serta kelompok-kelompok perempuan di Pulau Nain, yang telah memberikan dukungan tak ternilai hingga kami dapat menyelesaikan penyusunan modul ini. Tanpa mereka modul ini tidak akan “berjiwa”. Keempat, tak dapat dipungkiri modul ini bisa dikembangkan karena adanya Jaringan Pendidikan Alternatif Permepuan yang pada tahun 2002 telah menginisiasi pengembangan PAG untuk perempuan miskin kota, PRT, perempuan pedesaan, dan perempuan nelayan. Oleh karenanya sangat pantas rasanya kami untuk berterima kasih kepada teman-teman yang berada dalam jaringan tersebut. Kelima, ucapan terima kasih kami tujukan juga kepada Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang terus membantu upaya KAPAL Perempuan dalam mengembangkan pendidikan perempuan di akar rumput. Dan tak lupa, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tak dapat kami sebutkan satu persatu di sini yang telah membantu penerbitan modul ini.

Terakhir tetapi justru yang utama, penghargaan dan terima kasih harus kami berikan kepada Yanti Muchtar sebagai leader-nya, dan tim modul penyusun Lily Pulu, Fitri Sunarto dan Salbiyah yang telah bekerja keras dengan penuh dedikasi menyusun modul ini.