Modul Strategi Pencegahan dan Penanganan Trafiking Perempuan dan Anak

Jumlah korban perdagangan manusia (human trafficking) di Indonesia  mencapai  1 juta orang per tahun (Sindonews 24/08/2015).  Dengan luas sekitar 1.905 juta km² dan  17.504 pulau, Indonesia menjadi tempat perekrutan, sekaligus titik transit dan tujuan pekerja paksa dan korban perdagangan manusia. Perempuan dan anak-anak menjadi korban yang paling rentan dalam situasi ini.  Data jumlah korban yang terus meningkat belum  diimbangi dengan upaya penanganan dan pencegahannya. Yang juga memprihatinkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap masalah trafiking masih terbilang rendah.

Dengan terbitnya Modul Strategi Pencegahan dan Penanganan Traficking Perempuan dan Anak pada tahun 2006, hasil  kerja sama Institut KAPAL Perempuan dengan Perhimpunan Rindang Banua dan The Asia Foundation-USAID ini masih relevan untuk digunakan dalam merespon permasalahan trafiking.  Tujuan dari pembuatan modul ini adalah untuk membangkitkan kesadaran masyarakat khususnya yang berada di wilayah perbatasan untuk peduli  terhadap isu-isu trafiking  perempuan dan anak yang harus ditanggapi dengan serius dan disertai dengan strategi pencegahan dan penanganan secara menyeluruh yang melibatkan pemerintah maupun masyarakat. 

Wilayah perbatasan yang menjadi fokus dalam modul ini  adalah Kabupaten Sanggau, yang terletak di provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten ini menjadi tempat pengiriman dan transit perdagangan perempuan dan anak yang cukup tinggi di Indonesia. Lokasinya yang strategis, berbatasan langsung dengan Malaysia yang menjadi negara tujuan utama bagi pekerja migran (berdasarkan laporan Konsulat AS di Indonesia, 2016) juga karena faktor kemiskinan.  Kemiskinan ini mengakibatkan perempuan tidak hanya rendah dalam pendidikan tetapi juga membuatnya menjadi tulang punggung keluarga. Streotipe selama ini yang masih melekat di masyarakat Sanggau adalah perempuan harus membantu keluarganya menempatkan perempuan siap bekerja apa saja termasuk merantau ke luar negeri untuk membantu kehidupan perekonomian keluarganya. Perempuan dianggap sebagai seorang yang mudah tergoda dengan bujuk rayu,  bodoh, dan tidak bisa melawan.  Berdasarkan stereotipe tersebut, modul ini kemudian menyisipkan penggunaan perspektif keadilan gender yang menjadi dasar permasalahan trafiking supaya perempuan dan anak-anak yang menjadi korban tidak dipersalahkan dan eksploitasi yang dialami mereka tidak dianggap sebagai kebodohan atau kesialan semata, sedangkan metode yang digunakan adalah metode partisipatif berbasis pengalaman perempuan dan komunitas.

Modul ini merupakan hasil dari workshop “Pengembangan Strategi Pencegahan dan Penanganan Trafiking Perempuan dan Anak di Kabupaten Sanggau” selama 5 hari, yang menjadi bagian dari rangkaian Program Strategi Pencegahan dan Penanganan Trafiking Perempuan dan Anak di Kabupaten Sanggau sejak Februari hingga Desember 2005.  Adapun kegiatan lainnya yang tercakup dalam program ini adalah (1) Kampanye publik, (2) Workshop Monitoring dan Evaluasi Partisipatif, (3) Monitoring dan Evaluasi terhadap mantan peserta workshop, (4) Workshop Evaluasi Program, dan Publikasi laporan kegiatan dalam bentuk buku dan film.  Dengan terbitnya modul ini diharapkan dapat memberi penjelasan mengenai akar permasalahan terhadap persoalan trafiking perempuan dan anak, serta mendorong pembuatan modul-modul lainnya yang juga konsen terhadap isu yang sama.

Post a comment