Peluncuran Sekolah Perempuan Pulau Kabupaten Pangkep

sebuah awal untuk mengubah hidup perempuan miskin pulau untuk kesetaraan dan kesejahteraan (sebuah catatan kecil)

“Saya sengaja membawa perahu ini sebagai simbol perjuangan saya untuk mendapatkan pengakuan sebagai nelayan perempuan. Saya telah melaut sejak umur saya 12 tahun untuk menghidupi keluarga saya. Tapi karena saya perempuan, saya tidak pernah diakui sebagai nelayan, karena itulah saya tidak pernah mendapatkan bantuan perahu dari pemerintah”, testimoni Nurlina, anggota Sekolah Perempuan Pulau Bangko-Bangkoang dalam Peluncuran Sekolah Perempuan Pulau telah menyentak pemerintah dan masyarakat. Betapa tidak, seorang perempuan nelayan yang selama ini suaranya tidak pernah terdengar, hilang dalam gemuruh lautan patriarkhi, dengan lantang telah menyuarakan hidupnya dan hidup perempuan miskin pulau lainnya.

Peluncuran Sekolah Perempuan Pulau, sebuah kegiatan kolaborasi YKPM, mitra Institut KAPAL Perempuan dalam program “Gender Wath” dengan pemerintah kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus mempublikkan Sekolah Perempuan Pulau yang telah dibangun dan berjalan kurang lebih 3 tahun. Kolaborasi kritis antara pemerintah dan organisasi masyarakat sipil dalam peluncuran ini juga merupakan bagian dari pengakuan terhadap Sekolah Perempuan oleh pemerintah dan upaya advokasi untuk mendorong pemerintah mereplikasi Sekolah Perempuan di pulau atau tempat lainnya.

Pengakuan pemerintah terhadap perubahan apa yang dihasilkan dari Sekokah Perempuan ini tentu tidak didulang begitu saja oleh Sekolah Perempuan Pulau. Nurlina, Ceddo dan Indotang bersama 400-an anggota Sekolah Perempuan Pulau lainnya aktif membangun kesadaran kritis mereka, bergerak mengembangkan jaringan dan aksi-aksi advokasi serta mengubah keluarga dan masyarakat sekitarnya, di Sekolah Perempuan Pulau. Pertemuan-pertemuan Sekolah Perempuan terus mereka dikembangkan meski harus menyeberang pulau dengan Joloro’ (perahu kecil) mereka, mempresentasikan Sekolah Perempuan pada pemerintah desa mereka hadapi meski dengan tangan gemeteran, musrenbang mereka kawal meski usulannya dianggap tidak penting bahkan dialog dengan bupati mereka perjuangkan meski selama ini mereka takut berhadapan dengan para “baju dinas”.

Benar apa yang dikatakan Nurlina pada akhir testimoninya bahwa perjuangan mereka belum selesai, mereka akan terus belajar dan bergerak. Ini baru awal. Awal sebuah perubahan yang diwujudkan perempuan miskin pulau untuk kesetaraan dan kesejahteraan. Oleh karena itu, replikasi Sekolah Perempuan Pulau oleh pemerintah kabupaten Pangkep adalah agenda strategis untuk mewujudkan perubahan di kabupaten 117 pulau tersebut.

Catatan Ulfa Kasim

Koordinator Capaity Building Institut KAPAL Perempuan