Perempuan Memantau Program Perlindungan Sosial

Pematauan/Monitoring adalah MUDAH.
Semua orang dapat melakukannya!

Kegiatan pemantauan, monitoring evaluasi (monev) dan audit sosial seringkali dianggap pekerjaan besar, rumit dan ada pandangan hanya dapat dilakukan oleh orang pintar dengan pendidikan tinggi. Bahkan karena rumit dan sulit maka berbiaya tinggi.
KAPAL Perempuan memposisikan diri bahwa siapapun dapat melakukan pemantauan. Tentu saja melalui proses belajar seseorang akan memahami dan dapat melakukan. Termasuk perempuan dengan pendidikan formal yang rendah sekalipun.

Kami memulai dengan melatih para perempuan miskin di daerah perdesaan dan perkotaan dengan hal sederhana. Memantau pelayanan kesehatan, misalnya. Pertama mengajak para perempuan yang tergabung dalam Sekolah Perempuan menemukan masalah mengapa mereka sulit berobat padahal ada Puskesmas, Pustu dan Poskesdes di wilayah mereka.

Mereka menemukan bahwa Poskesdes, Pustu dan Puskesmas tidak ada tenaga medisnya. Mereka banyak berpraktek di rumahnya sehingga warga harus membayar. Tempat pengobatan sering tidak ada tenaga medisnya. Ada seminggu hadir, menghilang 3 bulan. Bahkan terkadang buka terlalu siang dan tutup lebih cepat, tidak sesuai aturannya
Apa yang harus dilakukan? Tentu saja melaporkan kepada pihak pemerintah. Bagaimana caranya? Melaporkan harus mempunyai bukti. Bukan asumsi, apalagi gossip. Maka kami mengajak para perempuan yang paling dirugikan dengan rendahnya pelayanan kesehatan itu dengan memperhatikan dan mencatat setiap hari, kapan tempat berobat itu buka dan tutup. Mengecek apakah ada petugas kesehatannya. Kalau terpaksa berobat ke rumah bidan atau mantri berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan seterusnya. ITULAH MEMANTAU.Sederhana bukan?
Pemantauan itu dilanjutkan dengan membuat catatan rinci sampai rentang waktu tertentu. Jika ada yang kurang kuat mereka mencari tahu dengan bertanya supaya apa yang dicatatnya tidak salah atau hasil mengira-ngira.

Temuan-temuan hasil pemantauan itu kemudian dibawa ketika mereka berdialog dengan pejabat pemerintah di desa/kelurahan, kecamatan dan sampai kabupaten/kota. Banyak yang sudah berhasil mereka desakkan. Ada perubahan kebijakan, perbaikan fasilitas pelayanan dan perbaikan program yang dibuat oleh pemerintah.
Pada tahun ini kemampuan anggota Sekolah Perempuan itu ditingkatkan. Mereka dilatih untuk memantau Program Perlindungan Sosial Bidang Kesehatan, yaitu JKN-PBI (Jaminan Kesehatan Nasional-Penerima Bantuan Iuran). Maksudnya program KIS (Kartu Indonesia Sehat). Ini akan dilakukan di Jakarta, Gresik, Lombok Timur, Lombok Utara, Pangkajene dan Kepulauan, Kupang dan Padang memperkuat kemampuan kerja sama Insitut KAPAL Perempuan dan LPSDM, KPS2K, PBT, YKPM da Pondok Pergerakan.

Kami memulai dari Jakarta. Salah satu metodenya adalah survei. Hari ini, kami menguji coba kuesionernya. Meskipun ada yang masih kesulitan tapi anggota Sekolah Perempuan ini berusaha dengan semangat. Keberhasilan mereka akan mematahkan bahwa pemantauan hanya dapat dilakukan orang berpendidikan tinggi, pintar dan biayanya besar.