Prinsip-prinsip Pendidikan Feminis

Apa saja prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan pelatihan untuk menumbuhkan dan meningkatkan sensitivitas keadilan gender?

(1) Partisipatif dan Dialogis

Metodologi yang sering digunakan dalam pendidikan feminisme adalah pendidikan yang partisipatif dan dialogis. Cara-cara pendidikan seperti ini juga diterapkan dalam pendidikan kritis untuk kaum tertindas. Tetapi dalam sistem pendidikan yang dominan, metodologi ini sangat jarang ditemukan. Karena pendidikan yang ada pada umumnya tidak membangun proses dialog antara guru dan murid. Posisi ini juga mengakibatkan murid selalu pasif dan guru yang menjadi sumber utama informasi. Oleh karena itu untuk melawan sistem pendidikan yang dominan ini, pendidikan feminis berupaya untuk mengembangkan pendidikan yang partisipatif antara peserta dan fasilitator yang bersifat dialogis, dimana kedua pihak menjadi sumber informasi. Dalam sistem pendidikan seperti ini tidak ada pihak yang dianggap paling tahu, tapi posisi peserta dan fasilitator adalah setara. Dengan demikian, membangun hubungan setara dan saling membantu antara fasilitator dan peserta serta antar peserta sendiri sangat penting dilakukan.

(2) Mengembangkan “Ruang-ruang” bagi Perempuan untuk Berani Mengungkapkan Pengalaman Pribadinya

Dalam pendidikan feminis, pengalaman perempuan menjadi salah satu sumber pengetahuan. Ini memang sangat bertentangan dengan anggapan bahwa sesuatu yang ilmiah adalah hasil dari proses berpikir dan bukan dari pengalaman yang merupakan hasil pergulatan pikiran dan perasaan. Banyak perempuan yang merasa pengalaman pribadinya bukan hal yang penting untuk digali dan diungkapkan sebagai pengetahuan. Budaya patriarki telah mengungkung peempuan untuk membuka hal-hal yang bersifat pribadi di depan umum atau kepada orang lain karena seorang perempuan harus menjaga nama baik keluarganya. Oleh karena itu metode yang dikembangkan dalam pendidikan feminis selalu berupaya untuk mendorong permepuan untuk berani mengungkapkan pengalaman pribadinya.

(3) Kelompok Belajar Menjadi Kelompok Pendukung

Setelah terbangun kesadaran dalam dirinya bahwa mereka adalah korban dan tidak mendapatkan hak sebagaimana seharusnya, umumnya perempuan berusaha untuk melakukan aksi melawan penindasan itu. Tetapi seringkali dalam pelaksanaannya, seorang perempuan tidak mampu menerapkan apa yang telah diketahuinya karena ketakutan dan kekhawatiran akan mendapat masalah dan tidak ada orang yang mendukungnya. Dalam proses pendidikan feminis ini, diharapkan peserta dapat menemukan orang-orang di sekitarnya yang memiliki pengalaman sama kemudian membangun kelompok-kelompok pendukung di mana mereka dapat saling berbagi dan mendukung satu sama lainnya. Dengan demikian dalam pergulatan yang dihadapinya perempuan bisa tetap bertahan karena adanya kelompok pendukung.

Sumber: Modul Pelatihan untuk Menumbuhkan dan Meningkatkan Sensitivitas Keadilan Gender, KAPAL Perempuan.