Profil Sekolah Perempuan

Masyarakat yang berdaya terutama perempuan berdaya adalah kunci keberhasilan pembangunan sebuah negara, terutama dalam mencapai keadilan bagi semua, ksejahteraan yang merata, kesetaraan gender, perdamaian dan rasa aman bagi semua lapisan. perempuan yang berdaya akan menjadi aktor penting dalam mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs terutama prinsip “tak seorangpun boleh ditinggalkan”.

Sekolah Perempuan merupakan salah satu model pemberdayaan perempuan di kalangan akar rumput melaui proses pembelajaran atau pendidikan sepanjang hayat. tujuan utama Sekolah Perempuan adalah mengembangkan leadership atau kepemimpinan perempuan agar memiliki kesadaran kritis, kepedulian, solidaritas, kecakapan hidup dan berkomitmen menjadi pelaku perubahan sosial agar terbebas dari kemiskinan. Arah dari kepemimpinan perempuan ini diorientasikan untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan perdamaian di seluruh ranah, dimulai dari diri pribadi, keluarga, komunitas dan mendesakannya dalam kebijakan pemerintah.

Sekolah Perempuan ini diinisiasi oleh Institut KAPAL Perempuan sejak tahun 2000 dan saat ini telah menyebar dan diadopsi di berbagai wilayah. Sekolah Perempuan adalah wadah pembelajaran dan mengelola pengetahuan perempuan yang utamanya dikembangkan di komunitas-komunitas miskin pedesaan, perkotaan, pesisir dan kepulauan terpencil. Anggota komunitas belajar Sekolah Perempuan berasal dari beragam etnis, suku, agama, gender, usia dan kemampuan fisik. Mereka belajar secara intensif setiap 1 atau 2 minggu sekali di rumah-rumah penduduk, lahan kosong, pinggir sungai, pinggir pantai, di kantor RW atau balai desa.

Tahun 2013, Sekolah Perempuan mendapatkan dukungan program MAMPU-DFAT Australia. Sekolah Perempuan dikembangkan bersama YKPM di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan; LPSDM Nusa Tenggara Barat di kabupaten Lombok Utara dan Timur; KPS2K di Kabupaten Gresik; YAO dan Pondok PERGERAKAN Nusa Tenggara Timur di kabupaten dan kota Kupang; PBT di kota Padang, Sumatera Barat; dan bantaran Ciliwung di kota Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

Proses pembelajaran Sekolah Perempuan dikaitkan dengan analisis struktur yang lebih luas terkait sistem ekonomi, sosial, politik dan budaya. Wilayah-wilayah pengembangan Sekolah Perempuan adalah desa miskin kepulauan, desa miskin pesisir, wilayah kering, desa miskin rawan bencana alam, desa miskin yang terjadi penguatan identitas berbasis nilai-nilai konservatif, wilayah dengan kerusakan lingkungan dan kelurahan miskin kota yang rawan bencana banjir.

Pengalaman perempuan dijadikan sumber utama dalam proses pembelajaran dan membangun pengetahuan. Perempuan di setiap komunitas didampingi oleh fasilitator atau seorang edukator yang tinggal di lokasi Sekolah Perempuan. Fasilitator tinggal bersama komunitas belajar agar memiliki empati dan pengetahuan mendalam. Dengan demikian, fasilitator Sekolah Perempuan dapat mengaitkan kehidupan perempuan dengan materi pendidikan dan pengorganisasian perempuan.

 

 

profil-sekolah-perempuan