Refleksi Bersama Membangun Platform Gerakan Perempuan dengan Perspektif Feminisme dan Pluralisme

Surabaya, 15 Agustus 2016

Menjelang 71 tahun  Indonesia merdeka, kemerdekaan apakah yang telah didapat perempuan Indonesia? Perempuan belum mendapat kemerdekaan, tak banyak yang berubah pada kondisi perempuan Indonesia.

Inilah yang muncul dalam Peluncuran buku Tumbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Orde Baru yang dilanjutkan dengan Seminar yang merupakan kerjasama Institut KAPAL Perempuan, FISIP-Unair dan ASWGI (Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia).

Pada saat pembukaan, Dekan Fisip-Unair menyatakan bahwa ada kecenderungan penurunan keterwakilan perempuan. Pemilih perempuan hampir 50% dari jumlah pemilih tapi keterwakilan perempuan hanya 17% saja. Di Jawa Timur hanya 3 orang yang berhasil duduk sebagai pimpinan daerah.

Lebih dari itu, 3 narasumber Dr. Ratna Saptari (antroplog dari Universitas Leiden), Misiyah (Institut KAPAL Perempuan), Prof. Dr. Emi Susanti (Ketua ASWAGI) yang hadir menyatakan bahwa permasalahan perempuan multidimensional. Masalah kekerasan bukan hanya kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual tapi juga terkait perdagangan perempuan, sunat perempuan dan pemaksaan perkawinan pada anak-anak.

Situasi gerakan perempuan saat ini mempunyai tantangan yang lebih besar menurut Ratna Saptari karena masing-masing organisasi konsentrasi pada pekerjaannya sendiri dan tidak mempunyai musuh bersama. Berbeda dengan masa Orde Baru, seperti yang ditulis mbak Yanti Muchtar, semua organisasi pro demokrasi termasuk organisasi perempuan mempunyai musuh bersama yaitu pemerintah yang militeristik.

Tantangan penting gerakan perempuan dan sekaligus menjadi dilematisnya adalah bagaimana persoalan yang multidemensi itu diselesaikan dengan cara tersebut. Maksudnya dalam memperjuangkan isu perempuan, misanya perdagangan perempuan, gerakan perempuan dapat bekerjasama dengan berbagai organisasi lain atau mengintegrasikan masalah perempuan dengan isu yang lebih luas, misalnya akses terhadap sumber daya tetapi tidak kehilangan isu perempuan itu sendiri.

Salah satu strategi yang ditawarkan oleh KAPAL Perempuan adalah pendidikan feminis dan memperkuat perempuan akar rumput. Ini menjawab pertanyaan mbak Yanti dalam bukunya. Jika kita bekerja untuk perempuan, perempuan yang mana? Karena perempuan itu tidak tunggal. Perempuan yang mengalami persoalan muntidimensi tentunya.