Saraiyah, Pemimpin Perempuan dari Nusa Tenggara Barat

Peguatan yang kapasitas dan kepemimpinan perempuan di komunitas telah mengubah kehidupan perempuan dan komunitasnya. Peran-peran mereka bukan saja akan mengatasi kemiskinan tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat tentang perempuan, kesetaraan gender dan pandangan bahwa nelayan, petani dan kepala keluarga yang selama ini dilekatkan pada laki-laki telah berubah. Bahkan Pemerintah Daerah telah mengakui bahwa nelayan bukan laki-laki tetapi juga perempuan sehingga mereka juga berhak mendapat bantuan program yang selama ini diberikan kepada laki-laki, seperti perahu atau mesin perahu. Pada awal Program Gender Watch ini masuk, perempuan yang tidak segera menikah, perempuan yang kehilangan suami dan ayah dianggap tidak berharga karena cara pandang bahwa keberadaan perempuan jika ada laki-laki disampingnya. Perempuan yang bersekolah keluar dari desanya khususnya di pulau dan NTB akan dituduh melakukan yang tidak baik karena jauh dari orang tua akan membuat mereka liar. Oleh karena itu, sangat jarang anak perempuan disekolahkan tinggi selain karena kemiskinan. Mereka lebih aman untuk segera menikahkan anak perempuannya meskipun mampu membiaya. Pengalaman beberapa perempuan kepala keluarga yang merasakan beratnya hidup karena dituduh mencari laki-laki karena bekerja berdagang keluar desanya untuk menafkahi anak dan orang tuanya.

Bagi perempuan yang menikah, kehidupan yang dialaminya tidaklah lebih aman. Mereka dicurigai oleh suaminya jika berbedak, pergi ke warung untuk belanja dan dianggap terlalu lama. Mereka akan mengalami cacian dan pukulan karena dianggap mencari laki-laki lain. Bahkan ada anggota Sekolah Perempuan yang terpaksa pulang saat mengikuti training karena suaminya melempari rumah fasilitator desa yang dianggap membawa istrinya berlaku tidak benar karena menginap di luar desanya. Kekerasan fisik, verbal dan seksual dalam kehidupan rumah tangga banyak dialami perempuan, bahkan hasil kerjanya ke luar negeri dihabiskan oleh suaminya untuk menikah dengan perempuan lain. Ini adalah proses pemiskinan terhadap perempuan yang seringkali tidak masuk dalam analisis kebijakan negara.

Kesadaran kritis yang lambat laun semakin menguat telah membawa perubahan bagi perempuan untuk mulai membangin kesetaraan meski ada beberapa kasus tidak dapat dihindari untuk melakukan perceraian karena sudah tidak tahan atas perlakuan suaminya. Meskipun dengan perjuangan keras, mereka mulai berbagi pekerjaan rumah tangga dengan suami, dapat beraktifitas di luar rumah bahkan berkontribusi pada perubahan di komunitasnya. Tuduhan penyebar ajaran sesat yang tidak bisa dianggap ringan dalam masyarakat agamis dapat diselesaikan dengan baik. Ini membuktikan bahwa kemampuan perempuan dalam melakukan perubahan sangat besar. Saat ini, mereka sudah dapat menilai pelayanan publik yang dianggap tidak memadai dan memberikan usulan konkrit yang dapat dinikmati oleh semua pihak baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak dan juga lansia. Mereka pun punya kesadaran kritis dengan analisis yang tidak kalah bagusnya dengan para aktifis. Pada saat ditanya oleh Evaluator dari DFAT,”…ibu-ibu menyampaikan bahwa hambatan terbesar adalah dukungan laki-laki dan keluarga. Apakah ada rencana melibatkan laki-laki dalam program ini?” Beberapa orang spontan menjawab,”tidak masalah kami bekerja sama tapi laki-laki jangan diberi peran besar karena mereka akan menguasai kami dan kami akan kembali ke dalam rumah seperti dulu lagi”. Mereka menyadari bahwa jalan panjang masih harus dilalui perempuan agar setara dengan laki-laki hingga pada saatnya mereka benar-benar berjalan pada start yang sama.