Seni dan Gerakan

Pendekatan seni dan budaya dalam penguatan masyarakat sudah dilakukan oleh berbagai organisasi gerakan tapi jumlahnya masih terbatas. Padahal menyampaikan sesuatu dengan menyenangkan akan membuat orang mudah memahami dan tersentuh hatinya.
Kami mendiskusikan ini dengan narasumber Melanie Subono pada 1 Februari 2017. Melanie adalah seniman, musik dan film. Dia juga mendedikasikan dirinya juga untuk isu lingkungan khususnya perlindungan binatang seperti orang utan, penyu dan gajah. Saat ini, Melani bergabung untuk advokasi perlindungan buruh migran.
Diskusi ini melibatkan beberapa organisasi yang bekerja dengan menggunakan media kreatif sebagai penguatan dan pendidikan publik, seperti foto, kesenian musik dan tari tradisional, bersepeda, lari bersama, festival engrang, membuat video/film pendek dan teater. Institut KAPAL Perempuan sudah memulai dengan menyelenggarakan Festival Budaya Perempuan yang menggabungkan antara menulis cerita diri dan komunitasnya, bercerita, menari, teater, monolog, bernyanyi diiringi musik tradisional.
Melanie menyampaikan dalam memperkuat gerakan perempuan dan sosial, penting melibatkan banyak pihak termasuk anak muda. Selama ini mereka kurang disentuh dan tidak mendapat informasi yang memadai tentang gerakan. Melanie mencontohkan, pada saat tinggal di luar negeri jika anak-anak muda bicara HAM, stop bully itu keren. Tapi di Indonesia masih sangat minim. Salah satu cara untuk menyentuh anak muda adalah memahami dunianya, memberikan informasi yang simple dan mudah dipahami, melibatkan dalam kegiatan yang fun tapi menggali potensi mereka seperti dalam bermusik, menggunakan youtube, fotografi, film-film pendek.

Selain anak muda, juga perlu memperluas dukungan pada banyak pihak supaya mereka tertarik dan terlibat. Farha Ciciek, aktifis perempuan dan pluralisme yang hadir dalam diskusi ini menceritakan pengalamannya mengembangkan komunitas belajar untuk anak-anak dan perempuan yang diberi nama Tanoker. Salah satu yang diceritakan adalah pembelajaran penghargaan terhadap keberagaman melalui pementasan tentang kebhinekaan. Setiap anak diminta berperan sebagai perwakilan berbagai suku di Indonesia. Tidak ada satu pun yang bersedia berperan sebagai anak Papua. Diberi penjelasan apapun tidak mampu mengubah sikap mereka. Papua dianggap suku yang berbeda dari lainnya karena berkulit hitam dan dalam pandangan mereka, hitam itu jelek. Bahkan ketika Farha Ciciek meminta anaknya untuk menjadi anak Papua juga tidak mau dan menangis. Akhirnya rencana pementasan dibatalkan.

Peristiwa itu menjadi pintu masuk untuk memberikan pembelajaran lebih dalam kepada anak-anak di Tanoker tentang suku-suku di Indonesia terutama Papua melalui lagu-lagu dan visualisasinya. Misalnya lagu Tanah Papua, Aku Papua dengan latar belakang keindahan alam Papua dan anak-anak yang bermain ceria. Ternyata visualisasi dan lagu tersebut mampu membangun kecintaan anak-anak Tanoker terhadap Papua. Pada pementasan berikutnya anak-anak tersebut banyak yang bersedia berperan sebagai anak Papua dengan senang hati, tanpa pemaksaan. Seni memang luar biasa.