Sri Bulan; Memperjuangkan Akses Program Jaminan Sosial

Program Gender Watch dan kegiatan Sekolah Perempuan yang dilakukan oleh KPS2K di Desa Kesamben Kulon Kabupaten Gresik membawa perubahan positif dalam kehidupan Sri Bulan. Perubahan yang paling dirasakannya adalah peningkatan kapasitas dirinya dalam mengakses program Jaminan Sosial pemerintah yaitu BPJS-PBI.

Sri Bulan adalah seorang perempuan berusia 26 tahun. Ia menikah pada usia 17 tahun dan saat ini memiliki seorang anak perempuan berusia 9 tahun. Suaminya bekerja sebagai Pencari Belalang atau Luwak. Bulan yang hanya menamatkan pendidikan formalnya sampai SMP, terkadang membantu bapaknya mencari rumput ternak. Pada tahun 2009, Bulan terkena kanker Nesovarin, penyakit kanker yang menyerang rongga hidungnya sejak. Bulan menjalani radioterapi dan kemo yang membuat kondisi tubuhnya berubah; tuli, mati rasa, kehilangan air liur, berat badan menurun dan kesulitan berbicara. Pada saat yang sama, Bulan kerap mengalami kekerasan dari suaminya. Suaminya selingkuh, tidak memberi nafkah keluarga, menghina, membentak dan sering melarang Bulan untuk keluar rumah.

Sejak April 2014, Bulan mengikuti Sekolah Perempuan di dusunnya, Randusongo. Bulan yang awalnya sangat tidak percaya diri, malu berbicara dan menutup diri, lambat laun mulai berubah. Dia selalu aktif dalam pertemuan-pertemuan sekolah maupun pertemuan yang melibatkan pemerintah desa dan kabupaten. Kepercayaan dirinya mulai berkembang. Bulan, rajin menuliskan database anggota sekolah. Kemampuan mendokumentasikan ini perlahan meningkat, Bulan mampu mendokumentasikan data feminisasi kemiskinan yang ada di dusunnya dan ia terlibat aktif dalam proses pendataan partisipatif yang dilakukan di desanya. Keaktifannya dalam kegiatan-kegiatan sekolah juga telah mengantarkannya sebagai salah satu penari tarian Javen yang diundang oleh Pemerintah Kecamatan Wringinanom dalam rangka HUT RI ke-70. Bulan semakin bersemangat menjalani kehidupannya.

Berbekal informasi dan pengetahuan tentang perlindungan sosial yang diperolehnya di Sekolah Perempuan, Bulan gencar menyebarkan informasi tersebut kepada tetangga sekitarnya. Awalnya ia tidak dipercaya, tetapi Bulan membuktikan informasi dan pengetahuannya itu dengan membantu tetangganya, seorang perempuan Kepala Keluarga yang dirawat di Rumah Sakit karena penyakit paru-paru. Bulan membantu mengurus seluruh berkas yang dibutuhkan untuk mendapatkan pelayanan Jamkesmas; KTP, KK dan Kartu Jamkesmas hingga membantu mengakses layanan obat-obatan dari Rumah Sakit. Sejak saat itu, Bulan selalu dimintai tolong untuk mengakses layanan Jamkesmas. Tanpa dibayar, Bulan membantu tetangga-tetangganya yang menderita penyakit Lupus, Kista, dan lain-lain untuk berobat dengan menggunakan Jamkesmas. Dampak yang lain adalah masyarakat juga sudah mulai mau menggunakan kartu Jamkesmasnya untuk berobat yang selama ini kartu Jamkesmasnya selalu dibuang karena dianggap tidak berfungsi.

Tidak berhenti di dusun dan desanya saja, Bulan juga menyebarkan informasi dan pengetahuan tentang hak perempuan atas perlindungan sosial dan program Jamkesmas yang dimilikinya ke desa-desa yang lain. Jika memang bantuannya dibutuhkan, ia kerap turun membantu mengurus layanan Jamkesmas. Bulan sering mengatakan “jangan uang terus yang diurus, jiwa sosial lebih penting”. Karena konsistensinya itu, Bulan ditunjuk oleh Sekolah Perempuan untuk mendampingi anggota sekolah untuk memeriksakan IVA (Infeksi Visual Asam asetat) di RSUD Ibnu Sina Gresik. Bulan juga gencar mensosialisasikan Sekolah Perempuan kepada setiap perempuan yang ditemuinya.

Ironisnya, sebelum memperoleh kartu BPJS-PBI, Bulan sendiri tidak memiliki kartu Jamkesmas, meskipun ia telah memahami prosedur pengurusannya. Masalah dokumen kependudukan dan birokrasi pemerintah desa membuat Bulan terkatung-katung tidak memiliki kartu Jamkesmas. Bulan terus berusaha dengan mengikuti seluruh prosedur pengurusan dokumen; Surat Pindah, Surat Kehilangan, dan sebagainya, ditelusuri dan diurusnya. Ketika program Jamkesmas berubah menjadi program JKN (BPJS), dengan pengetahuan yang dimilikinya mengurus seluruh persyaratan untuk memperoleh BPJS-PBI. Akhirnya, Bulan, suami dan anaknya, terdaftar sebagai penerima BPJS-PBI Kelas 3 dengan gratis. Bagi Bulan, keberhasilannya ini harus disebarkan kepada perempuan-perempuan lainnya terutama perempuan miskin agar dapat mengakses layanan kesehatan reproduksinya. Bulan mengatakan “Perempuan penting memiliki BPJS agar terjamin kesehatannya. Perempuan Indonesia harus sadar kalau ini adalah pemenuhan hak dasar bernegara agar warga Indonesia sehat”.