Sujatin, Penggagas Kongres Perempuan Indonesia Tahun 1928

Setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu yang biasanya dirayakan dengan memberikan ucapan terima kasih atas peran-peran domestik perempuan. Mengukuhkan peran domestik perempuan. Padahal berdasarkan sejarah, tanggal tersebut diperingatinya sebagai tonggak Pergerakan Perempuan Indonesia yang ditandai dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Dalam kongres tersebut, agendanya adalah mendesakkan kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki diantaranya mulai mengkritisi poligami, diskriminasi terhadap perempuan, dominasi laki-laki atas perempuan dalam perkawinan dan penghapusan perkawinan anak.
Salah satu dari pelopor penyelenggaraan kongres tersebut adalah Sujatin. Usianya 21 tahun kala itu, paling muda di antara dua pelopor yang lain. Sejak remaja dia sudah bergabung dalam organisasi, salah satunya Jong Java yang merupakan organisasi kebangsaan pemuda Jawa. Gagasan dirinya yang ingin memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan didapatnya setelah membaca “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini. Buku tersebut menginspirasi dan membakar semangatnya untuk membela hak-hak perempuan. Karena keaktifannya tersebut, Sujatin kemudian dipilih untuk memimpin majalah terbitan Jong Java.
Dalam majalah tersebut, dia mempunyai nama pena “Bunga Gerbera”. Tulisannya banyak berfokus pada pentingnya pendidikan untuk mengubah nasib bangsa yang terjajah. Dengan bergabung di Jong Java, Sujatin berharap dapat menebarkan gagasan persatuan dan anti penjajahan. Hal itu dia lakukan baik di dalam maupun di luar kelas yang diajarnya. Dia mengajak para siswa untuk bergabung dalam organisasinya.
Setelah lulus dari MULO (Sekolah Menengah Pertama Zaman Belanda) dan Sekolah Guru, Sujatin memutuskan untuk mengajar di sekoah swasta dan menolak untuk bekerja di bawah pemerintahan Belanda. Tahun 1926, dia mendirikan Poetri Indonesia. Sebuah organisasi yang beranggotakan guru-guru muda. Dua tahun kemudian, dua bulan setelah Sumpah Pemoeda, dia mempelopori diadakannya Kongres Perempuan yang mempertemukan berbagai perempuan yang tergabung dalam organisasi perempuan dari seluruh daerah.
Pertemuan tersebut masih didominasi peserta dari Jawa tetapi dalam kongres tersebut disepakati untuk menggunakan bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Sujatin sendiri dikenal sebagai orang yang menolak segala hal yang mengarah pada “feodalisme” dan menolak menggunakan bahasa Jawa tinggi seperti yang kerap digunakan oleh bangsawan Jawa. Kongres tersebut berhasil memantik persatuan persekutuan perempuan yang berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Tak hanya itu, Sujatin juga aktif dalam pembentukan Perkumpulan Pembasmian Perdagangan Perempuan dan Anak-anak di tahun 1930.
Setelah Indonesia merdeka, Sujatin turut mendirikan Perwari Persatuan Wanita Republik Indonesia dan terpilih sebagai Ketua Badan Federasi Kongres Wanita. Setelah melepas seluruh jabatannya di tahun 1960, Ia tetap menjadi penasehat Perwari. Berkat gagasan dan perjuangan beliau, tanggal 22 Desember seharusnya diketahui dan diperingati juga sebagai hari kebangkitan perempuan Indonesia.
Sumber:
Blackburn, Susan. 2006. Tinjauan Ulang Kongres Perempuan Pertama. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
https://marsinahfm.wordpress.com/…/sujatin-penggagas-kongr…/
http://politik2.blogspot.co.id/…/…/terinspirasi-kartini.html