TOT Pendidikan Feminis: Kepemimpinan Perempuan untuk Kesetaraan dan Perdamaian

TOT Pendidikan Feminis: Pemimpin Perempuan untuk Kesetaraan dan Perdamaian.

#Hari Pertama

Pembukaan oleh Ibu Misi, Direktur Institut KAPAL Perempuan, 15 Oktober 2017. TOT ini dilaksanakan tanggal 15-19 Oktober 2017 di Depok, Jawa Barat. Bahwa TOT Pendidikan Feminis ini dilakukan sebagai salah satu penyikapan meningkatnya sikap intoleransi,
menguatnya sekat-sekat antar kelompok yang berbeda yang memungkinkan terjadinya konflik.
Situasi ini tidak hanya rentan terhadap kelompok minoritas tetapi juga mayoritas yang berbeda pandangan dengan kelompok mainstream.
Dampaknya akan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, gerakan perubahan yang kita lakukan terutama komunitas yang rentan, miskin, perempuan dan minoritas agama, suku, orientasi seksual, ras dan gender.

Berbagai masalah di berbagai wilayah asal peserta di 15 provinsi dirangkum dalam gambar yang dibuat oleh peserta, baik terkait isu perempuan maupun pluralisme.
Pemetaan masalah melalui gambar ini yang akan dijadikan konteks pembahasan dalam keseluruhan training. Adapun peserta ini berasal dari Aceh, Ambon (Maluku), Bali, Gorontalo, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

#Hari Kedua

Pemetaan masalah krusial terkait isu perempuan dan pluralisme di 15 provinsi menunjukkan bahwa tingkat marginalisasi, kekerasan dan kemiskinan perempuan serta meningkatnya intoleransi di berbagai wilayah paling tidak di 15 provisi sangat kuat.

Di Pasuruan, pengungsi Ahmadiyah masih mengalami intimidasi dan di wilayah-wilayah yang pernah berkonflik masih terus menerus untuk membangun perdamaian. Sekat antar masyarakat masih rentan untuk digunakan dalam politik kekuasaan.

Penguatan adat dan agama menjadi diskusi yang kuat karena berkontribusi pada pemiskinan perempuan (feminisasi kemiskinan). Kemudian ini diperparah oleh eksploitasi sumberdaya alam oleh pengusaha dengan pemerintah di belakangnya termasuk yang terjadi di Papua.

Maria, dari Papua menanyakan kepada ibu Jaleswari Pramodawardan, Deputy V Kantor Staf Presiden yang menjadi narasumber, bagaimana negara merespon dan bertindak terhadap kekerasan yang dialami perempuan di Papua yang penyebabnya banyak faktor termasuk aparat keamanan negara.

Hari kedua yang sangat padat ini tidak menyurutkan semangat dan energi para peserta yang mulai pagi sudah berdiskusi tentang peran media yang diberikan Ignatius Haryanto, Isu-isu krusial dalam konteks bernegara oleh Jaleswari Paramodawarhani, Ansos berperspektif Feminisme dan Pluralisme oleh Budhis Utami, dan Feminisasi Kemiskinan oleh Titik Hartini.

Semangat para peserta kuat karena mereka merasa ruang-ruang diskusi untuk memperkuat pemahaman isu feminisme dan pluralisme yang menjadi masalah mereka di wilayahnya masing-masing.

Pada tahun 2001, KAPAL sudah mengembangkan diskursus ini yang diimplementasikan dalam diskusi, pelatihan, pendidikan di komunitas, penelitian dan diskusi bekerjasama dengan FF. Karena isu KAPAL selalu dikaitkan dengan pluralisme maka KAPAL dibuatkan desk sendiri karena belum ada isu ini dalam program FF. Di dalam sambutannya, Ibu Ester Parapak yang mewakila FF sangat mendukung training yang dilakukan ini karena mereka juga berharap semakin banyak pemimpin-pemimpin perempuan di berbagai wilayah membangun kesadaran penghargaan pada keberagaman dan mencegah pandangan dan sikap intoleransi.