Vasektomi; Catatan kecil dari diskusi dengan “Mae” Ismail Husein

Catatan kecil dari diskusi dengan “Mae” Ismail Husein,
motivator dan fasilitator KB Vasektomi dalam diskusi kecil
di INSTITUT KAPAL Perempuan, 18 Februari 2013.

Medical Operatif Pria (MOP) atau biasa dikenal dengan vasektomi adalah metode Keluarga Berencana (KB) yang paling kontoversial karena bukan hanya ditolak oleh laki-laki tetapi juga oleh para istri. Bagi laki-laki, vasektomi dianggap sebagai “pengebirian” dalam arti yang menyeramkan. Tanpa mencari informasi lebih jauh, para laki-laki menganggap vasektomi akan menurunkan kemampuan seksual bahkan mematikan hasrat seksualnya. Para istri juga punya kekuatiran yang sama. Bahkan ditambah dengan ketakutan para suami mereka akan melakukan hubungan seks dengan perempuan manapun tanpa kuatir terjadi kehamilan.

Ketakutan tersebut tidak berlaku bagi Mae, panggilan akrab Ismail Husein, seorang aktifis organisasi perempuan yang juga dikenal sebagai motivator dan fasilitator KB Vasektomi di Provinsi Sulawesi Utara. Banyak penghargaan yang telah diberikan pada Mae atas perjuangannya agar laki-laki juga bertanggungjawab terhadap pembatasan kelahiran yang selama ini hanya dibebankan pada perempuan. Selama rentang tahun 2008-2013 sudah ada sekitar 3.000 laki-laki (suami) yang mengikuti vasektomi sebagai hasil dari kampanyenya.

Mae menjelaskan bahwa vasektomi itu adalah operasi mengikat saluran sperma untuk menghalangi transport spermatozoa (sel mani) di pipa-pipa sel mani laki-laki (saluran mani laki-laki) sehingga tidak menyebabkan kehamilan bagi perempuan. Pada saat ejakulasi, air mani laki-laki tidak mengandung sel sperma. Operasi ini adalah operasi kecil bahkan lebih ringan dari pada sunat/khitanan pada laki-laki. Bekas operasi hanya berupa satu luka di tengah atau luka kecil di kanan kiri kantong zakar (kantung buah pelir) atau scrotum.

Kesadarannya untuk mendorong KB laki-laki tidak begitu saja ada. Mae mengakui bahwa seperti pada umumnya laki-laki, dahulu dia sangat bias gender. Hanya tahu bahwa laki-laki mencari uang dan selebihnya adalah istrinya yang mengurusnya. Pada saat itu dia hanya mengikuti adat kebiasaan keluarga dan masyarakatnya. Mae lahir dari orang tua yang beretnis Sangir dan Gorontalo, sedang istrinya etnis Bajo. Dalam tradisi mereka, istri mengisi air, suami tinggal mandi. Suami lapar, cukup ke meja makan, semuanya sudah tersedia. Mae menyadari di kemudian hari bahwa budaya tersebut adalah salah. Terlalu membebani perempuan, istrinya. Kesadaran itu muncul setelah mengikuti pendidikan adil gender yang diselenggarakan KAPAL Perempuan.

Bermula dari kesadaran tersebut, Mae mulai prihatin dengan kondisi istrinya yang semakin melemah dan sering sakit karena melahirkan dan menggunakan alat kontrasepsi. Setelah melahirkan anak pertama (1990), istrinya mengikuti KB suntik dan tidak cocok. Namun masih diteruskan sampai melahirkan anak lagi pada tahun 1994. Kondisinya semakin berat dan kurus sekali. Pada tahun 1994-2001 mencoba berpindah metode dengan menggunakan KB implant. Bukan menjadi baik tetapi justru haid selama 3 minggu di setiap bulannya. Pada saat berkonsultasi dengan dokter, istrinya disarankan untuk menggunakan IUD. Menurut dokter, itu alat KB yang paling bagus. Namun yang terjadi, istri Mae tetap merasa sakit bahkan perutnya membesar. Seluruh alat KB yang dicobanya, tidak satu pun yang cocok.

Sebagai alternatif, istri Mae menggunakan KB alternatif yaitu meminum ramuan yang biasa diminum perempuan di lingkungannya. Ramuan tersebut dari perasan buah Nanas dan beberapa bahan lainnya. Bukannya berhasil, istri Mae kembali hamil anak ke-5 pada tahun 2006. Kali ini, dokter memberikan warning yang keras. Kehamilan ini harus yang terakhir karena istri Mae berada dalam kondisi “resti” (resiko tinggi). Telah terjadi pengecilan rahim yang diakibatkan minum ramuan tradisional tersebut. Dokter memperkirakan istri Mae akan melahirkan melalui operasi cesar. Pada kesempatan itu Mae Mendiskusikan dengan dokter untuk sekaligus melakukan operasi tubektomi sehingga istrinya tidak perlu lagi menggunakan alat KB yang tidak ada yang cocok tersebut.
Untuk mempersiapkan operasi tersebut, Mae telah menyediakan 10 anak muda yang siap untuk menjadi donor darah jika diperlukan. Namun untunglah, istrinya melahirkan di mobil saat perjalanan ke rumah sakit sehingga tidak perlu dioperasi.

Setelah 1 bulan melahirkan, Mae mengajak istrinya ke dokter untuk melakukan tubektomi. Namun dokter melarangnya karena perempuan yang pasca melahirkan banyak organ tubuhnya yang rusak jadi harus direcovery sekitar 2 tahun, namun jika istri Mae cukup kuat dapat dilakukan setelah satu tahun. Mae menjadi kuatir istrinya akan keburu hamil jika menunggu 2 tahun lagi.

Pada 6 Agustus 2006, Mae mengikuti pertemuan nasional para aktifis perempuan. Salah satu materi yang diberikan adakah kesehatan reproduksi yang dikaitkan dengan penggunaan alat kotrasepsi. Pembicara tersebut adalah dokter Meiwita Budhiharsana yang menjelaskan salah satunya adalah KB laki-laki yang salah satunya adalah vasektomi. Mae berusaha untuk bertemu ibu Meiwita untuk menanyakan lebih jauh metode KB tersebut dan menyatakan keinginannya untuk mengikuti vasektomi. Dokter Meiwita menyatakan laki-laki dapat mengikut vasektomi jika seluruh kontrasepsi laki-laki sudah tidak berhasil, seperti sanggama terputus , sistem kalender dan penggunaan kondom.

Berdasarkan hasil diskusi antara Mae dan dokter Meiwita dinyatakan bahwa Mae tidak memungkinkan menggunkan 3 metode KB tersebut. Senggama terputus mengganggu psikologis Mae karena usianya telah 39 tahun dan menyebabkan istri juga tidak akan orgasme karena menunggu pancacingan dari suami terlebih dahulu. Metode Kalender juga tidak memungkan karena istri Mae sangat subur yang dilihat dari seringnya melahirkan. Sedangkan kondom, meskipun bagus mencegah menular seksual kadang-kadang istri organisme menunggu ejakulasi laki-laki. Berdasarkan hasil konsultasi tersebut, Mae memantapkan dirinya untuk melakukan vasektomi karena dia merasakan bahwa KB untuk perempuan menyebabkan istrinya menderita bahkan juga berpengaruh terhadap anaknya yang kurang asupan gizi karena ASI ibunya tidak lancar karena meminum pil KB.

Pada bulan Desember 2006, Mae datang ke BKKBN di Sulawesi Utara namun belum bisa dilakukan karena mereka tidak mempunyai program vasektomi. Namun BKKBN merespon dengan minta kepada Mae untuk mengajak laki-laki lainn sehingga jumlah yang akan mengikuti vasektomi 5 orang karena biaya 5 juta. Pada awalnya, Mae akan dibiaya oleh organisasi, Swara Parangpuan untuk vasektomi tapi kemudian mereka bersama Mae berkampanye untuk mengajak para laki-laki yang meraka di sekitar mereka dan berhasil. Pada saat menjalani proses vasektomi, Mae sempat tegang sehingga tensinya yang biasanya 120/100 ketika diperiksa 180/100. Namun setelah ditenangkan, diputarkan film komedi Warkop Dono, Kasino, Indro dan diminta membanyangkan dikhitan, akhirnya operasi berjalan lancar. Setelah istirahat beberapa saat Mae pulang dengan dijemput motor oleh teman-temannya. Mae disarankan berhubungan dengan istrinya setelah ejakulasi 10-15 kali untuk membersihkan sisa spermanya. Jika tidak disiplin melakukan ini, terkadang masih menyebabkan istri bisa hamil.

Semenjak menjalani vasektomi dan merasakan manfaatnya, Mae ingin menularkan pengalamannya kepada keluarga lainnya. Dia menceritakan kepada teman-teman laki-lakinya tetapi tidak ada yang suka apalagi tertarik untuk mengikutinya. Namun Mae tidak putus asa sampai akhirnya ada temannya yang bersedia mengikuti. Bersama temannya tersebut, Mae memfokuskan sosialisasinya pada pasangan suami istri yang istrinya sudah berusia 35 tahun karena berada pada situasu resti (resiko tinggi untuk hamil dan melahirkan). Usaha ini berhasil karena ada sekitar 35 orang laki-laki yang bersedia.

Dengan meningkatnya jumlah laki-laki (para suami) yang mengikuti vasektomi, Mae mencoba mengajak rekan-rekannya untuk membentuk kelompok sebagai wadah untuk diskusi dan juga sharing mengenai yang dialaminya setelah vasektomi. Anehnya pada saat Mae dan teman-temannya mengundang staf BKKBN untuk memberikan penyuluhan justru mereka stress dan tidak bisa berbicara. Padahal itu sudah menjadi tanggung jawab petugas BKKBN. Sampai saat ini, sudah ada 70 orang di kampung Mae yang telah menjadi motivator.

Semakin banyaknya motivator KB Vasektomi, Mae dan teman-temannya terus mengembangkan KB ini secara sukarela. Bahkan dia dan temannya sering diminta BKKBN untuk menjadi penyuluh ke berbagai wilayah, seperti ke Tobelo, Maluku. Selain ke mesjid dan gereja juga sosialisasi ke stasiun televisi (Metro TV) dan radio.
Meskipun wilayah sosialisasinya semakin luas dan sudah mendapat kepercayaan BKKBN tapi tantangannya masih berat. Dalam sebuah pertemuan, Mae diusir karena vasektomi itu dianggap pengebirian dalam arti ekstrem yaitu pemotongan penis. Ada ustad kampung mengatakan bahwa vasektomi adalah haram dan harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Seorang camat mengumumkan ke loudspeaker bahwa KB laki-laki adalah ilegal dan menyebut Mae sebagai provokator. Mae tidak tinggal diam. Dia melaporkan ke bupati, melakukan hearing ke DPRD dan mengundang SKPD-SKPD untuk menegaskan pentingnya vasektomi dan memang sudah menjadi program pemerintah.

Usaha itu menghasilkan dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah daerah. Setelah dukungan mengalir, kemudian camat yang menyatakan vasektomi ilegal mengubah pernyataannya dan mengatakan bahwa Mae adalah provokator yang positif. Sekalipun tantangannya berat tapi Mae juga bertemu dengan kelompok masyarakat yang terbuka dan menerima dengan baik, yaitu pada saat melakukan sosialisasi di gereja. Namun saat presentasi di Makassar (Forum Kawasan Timur) Mae diancam oleh Front Pembela Islam (FPI) namun karena sudah terbiasa dengan berbagai ancaman Mae dengan tenang menghadapi dan terus berjuang agar vasektomi diterima oleh masyarakat khususnya laki-laki***