”Merdeka” di Mata Perempuan Akar Rumput

HUT KEMERDEKAAN KE-75 RI
 
Oleh: SONYA HELLEN SINOMBOR
18 Agustus 2020 – 07:15 WIB
 
Kendati Indonesia sudah merdeka selama 75 tahun, sampai saat ini masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan dan diskriminasi. Karena itu, perempuan di akar rumput kini bangkit mendobrak budaya patriarki.
Kata ”merdeka” bagi setiap perempuan di Tanah Air memiliki makna yang berbeda. Kemerdekaan memiliki makna luas, yakni merdeka mulai dari cara berpikir, berbicara, hingga bertindak. Merdeka adalah ketika perempuan sudah mengambil keputusan sendiri, mampu berjuang, dan membebaskan diri dari berbagai kekerasan, serta bisa keluar dari rumah dan berpartisipasi dalam pembangunan.
 
”Makna merdeka, pertama adalah hati kita harus bersih dari pikiran-pikiran yang membelenggu. Kedua, kita bisa dan mampu memperjuangkan hak-hak perempuan itu sendiri, misalnya ketika dalam perkawinan anak kita mampu ’pembelasan’ sehingga anak bisa dapat hak sekolah lagi. Namun, yang paling penting, adalah hati dan pikiran kita harus merdeka,” ujar Sisca dari Sekolah Perempuan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada acara Peluncuran Sekolah Perempuan Nusantara sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-75 RI, Senin (17/8/2020) petang.
 
Pada acara Peluncuran Sekolah Perempuan Nusantara yang dilakukan oleh Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda, dan Olahraga Kementerian PPN/Bappenas Woro Srihastuti Sulistyaningrum tersebut, perwakilan organisasi yang tergabung dalam Gerakan Gender Watch, yang selama ini melakukan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan kritis dan kepemimpinan perempuan akar rumput, menyuarakan ”Perempuan Lintas Identitas untuk Memaknai Kemerdekaan”.
 
Sekolah Perempuan Nusantara tersebar di desa-desa kepulauan dan pegunungan terpencil, rawan bencana, miskin, masyarakat adat, miskin kota, wilayah kerusakan lingkungan, dan kekeringan di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan DKI Jakarta.
Selain bebas dari bentuk kekerasan dalam rumah tangga dan perlakuan diskriminasi, para perempuan dari sejumlah daerah menyuarakan makna kemerdekaan dari berbagai sisi. Bahkan, beberapa perempuan menegaskan bahwa kemerdekaan adalah kedaulatan atas sumber penghidupan dikembalikan kepada perempuan supaya jangan lagi ada kemiskinan.
 
”Bagi saya sebagai perempuan akar rumput, merdeka adalah bagaimana perempuan bisa mengambil keputusan atas dirinya. Itu pun sudah saya anggap merdeka. Karena selama ini, kita sebagai perempuan merasa terlalu banyak tekanan dalam rumah tangga,” ujar Lilik Indrawati dari Sekolah Perempuan Gresik, Jawa Timur.
Bahkan, bagi Saraiyah, dari Sekolah Perempuan Lombok Utara, NTB, merdeka bagi perempuan adalah negara tetap hadir memberikan ruang gerak dan kesetaraan bagi hak-hak perempuan, tanpa ada diskriminasi, pelecehan, dan bentuk kekerasan yang lainnya, seperti perkawinan anak. Kehadiran negara tidak hanya sebatas wacana, tetapi hadir menegakkan hukum yang sesungguhnya, termasuk menjerat orang-orang yang terlibat dalam praktik perkawinan anak
 
”Saya sebagai perempuan pertama yang menjadi Majelis Krama Desa tetap berupaya dan memutus rantai-rantai aturan dan tekanan-tekanan adat yang selama ini tidak memihak pada perempuan, serta ikut dalam legiatan apa pun untuk perubahan buat perempuan. Karena merdeka bagi perempuan adalah berani berkata yang sesungguhnya dan menentukan pilihan sendiri,” kata Saraiyah.
 
Bagi Ida Seran dari Sekolah Perempuan Kupang, Nusa Tenggara Timur, selain bebas dari KDRT, merdeka adalah ketika perempuan di beri ruang untuk berbicara dalam berbagai program pembangunan desa.
Citra Hamidah, mewakili perempuan muda yang hadir, berpendapat bahwa merdeka adalah bebas berekspresi, mandiri, dan berani mendobrak segala sesuatu yang membelenggu perempuan, termasuk mendobrak budaya patriarki.
 
”Merdeka adalah sensitif terhadap isu perempuan yang menghambat kemajuan perempuan. Dalam situasi krisis toleransi, bagaimana perempuan muda harus menumbuhkan rasa menghargai dan menghormati segala perbedaan, suku, agama, dan ras. Mari merdekakan perempuan dan ciptakan perdamaian,” kata Citra.
Tak hanya itu, bagi Rosmini, aktivis perempuan dari Mamuju, Sulawesi Barat, merdeka adalah ketika perempuan mampu jujur terhadap diri sendiri. ”Itu paling utama. Ketika sudah mampu jujur pada diri sendiri, otomatis setiap langkah kita dan apa pun yang kita perbuat semua itu akan terorganisasi dan adil,” ujarnya.
 
Masih didera kekerasan dan diskriminasi
 
Peringatan HUT Kemerdekaan Ke-75 Republik Indonesia, menurut Direktur Institut KAPAL Perempuan Misiyah, adalah momen penting dan bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Semangat yang terkandung dalam tema ”Indonesia Maju” pada tahun ini sangat relevan bagi perempuan Indonesia yang mencapai kemajuan di suatu titik, tetapi di titik lain masih didera kekerasan dan diskriminasi.
 
”Dalam keprihatinan pandemi dan berbagai tantangan patriarki, konservatisme dan intoleransi, kita terus menggandeng erat kawan-kawan seperjuangan, menggelorakan semangat baru, dalam memajukan dan mencintai ibu pertiwi. Kemerdekaan sejatinya diperjuangkan untuk dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang identitas apa pun dan tidak boleh ada seorang pun yang ditinggalkan,” kata Misiyah.
Dalam kemerdekaan, Indonesia mesti bersiteguh pantang membiarkan kekerasan berbasis identitas apa pun, terutama kekerasan berbasis jender, serta melindungi anak-anak dari perkawinan anak, dan mencegah ibu meninggal saat melahirkan, lindungi perempuan dari kekerasan seksual dan KDRT, dan penuhi hak-hak ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang adil dan setara bagi perempuan.
 
Nama Sekolah Perempuan Nusantara dipilih dengan semangat memperteguh cinta Tanah Air, kebangsaan, keindonesiaan, dan penghargaan terhadap nilai-nilai keberagaman identitas jender, kelas, suku, ras, etnis, dan agama.
 
Pada tahun 2020, Sekolah Perempuan sudah memasuki tahun kedelapan dan diharapkan menjadi salah satu model pemberdayaan perempuan yang secara khusus mengembangkan kepemimpinan perempuan akar rumput dengan membangun kesadaran kritis, kecakapan hidup, solidaritas, dan komitmen untuk melakukan perubahan menuju masyarakat yang setara, berkeadilan jender, dan inklusif.
 
Editor:
ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN