INDOTANG DAN AWARD

Oleh Budhis Utami  Indotang adalah salah satu penerima Award Pencegahan Perkawinan Anak untuk Aktor Dewasa bersama M. Suroto dari Lombok […]

Oleh Budhis Utami 

Indotang adalah salah satu penerima Award Pencegahan Perkawinan Anak untuk Aktor Dewasa bersama M. Suroto dari Lombok Timur dan Misran Lubis dari Nias. Award ini diberikan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI. Dari ketiga penerima award untuk kategori aktor dewasa, Indotang adalah satu-satunya perempuan dan dari grassroot.

Dia adalah anggota Sekolah Perempuan Pulau yang ada di Kabupaten Pangkajene Kepulauan. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Dasar, masih kurang lancar berbahasa Indonesia karena sehari-hari menggunakan bahasa Bugis untuk berkomunikasi.

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal Indotang karena dia bekerja di level desa. Sebagai korban perkawinan anak dan juga korban kekerasan dalam rumah tangga, Indotang merasakan betul kehidupan yang terpuruk dan menderita. Dia bertekad untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan perkawinan anak.

Tidak besar yang dilakukannya. Memulai dari dirinya sendiri yang terus mengusahakan anaknya bersekolah, bertekad tidak mempraktekkan perkawinan anak. Juga melakukan upaya-upaya menghentikan praktek tersebut di dalam keluarga besarnya. Beberapa kali sudah berhasil membatalkan perkawinan anak di dalam keluarga besarnya.

Pekerjaannya sehari-hari adalah penjual sayur keliling. Dia menjadi penanggung jawab utama keluarganya, Kepala Keluarga terlebih setelah bercerai dengan suaminya. Pada saat menjual sayur berkeliling kampung, sambil melayani pembeli, dia juga memberikan masukan supaya ibu-ibu pembelinya tidak mengawinkan anak-anaknya perempuan saat masih anak (dibawah 18 tahun) dan mendorong supaya anak-anak disekolahkan setinggi-tingginya.

Ruang geraknya sempit, desa. Tapi dapat bayangkan jika ada satu perempuan saja yang seperti Indotang di setiap desa, berapa anak yang dapat kita selamatkan dari praktek perkawinan anak. Indotang tetap inspiratif meski yang dilakukan tak sehebat yang dibayangkan orang.

“Penghargaan ini bukan akhir perjuangan, tapi awal untuk semakin kuat memperjuangkan penghentian kekerasan terhadap perempuan dan perkawinan anak. Penghargaan ini bukan untuk saya tetapi untuk semua teman-teman saya di pulau yang sudah berjuang bersama-sama”. Demikian Indotang menutup pidatonya setelah mendapatkan penghargaan tersebut.

Selamat INDOTANG. Apresiasi kecil ini buah perjuanganmu keluar dari penderitaan yang tak banyak dilakukan perempuan yang mempunyai pengalaman yang sama. Bahkan sekalipun itu orang terkenal, kaya dan punya akses dimana-mana.

Karena pada akhirnya, PERJUANGAN itu adalah KEBERANIAN untuk menghadapi resiko. Termasuk penghakiman dari masyarakat dan orang-orang terdekat karena masih memegang teguh sesuatu yang hendak kita ubah.

Lihat Artikel Terkait

SIARAN PERS ALIANSI PEREMPUAN INDONESIA – Menuntut Pemerintahan Prabowo : Turunkan Harga, Ciptakan Lapangan Kerja, Hentikan MBG!

Jakarta, 17 Juni 2026, Aliansi Perempuan Indonesia menyerukan aksi bersama...

Bekerja dan Berkomunikasi Efektif selama WFH

Untuk mencegah berkembangnya penularan COVID-19 ini, pemerintah membuat kebijakan untuk...

Rapat Kelompok Kerja Perlindungan Sosial Program Maju Perempuan Indonesia untuk Penghapusan Kemiskinan (MAMPU)

Institut KAPAL Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia dan Perempuan Kepala Keluarga...

Scroll to Top