Radio Siperennu FM, Suara Perempuan di Pulau pada Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat akses masyarakat menjadi terbatas. Kehadiran radio komunitas menjadi penting bagi masyarakat, terutama para ibu dan perempuan di daerah terpencil, termasuk kepulauan.

Oleh
SONYA HELLEN SINOMBOR
13 Januari 2021
10:11 WIB

Link KOMPAShttps://www.kompas.id/baca/humaniora/2021/01/13/radio-siperennu-fm-suara-perempuan-di-pulau-di-masa-pandemi/

”Hallo para pendengar Radio Komunitas Perempuan Siperennu. Semangat pagi buat ibu-ibu yang mungkin menjalankan aktivitasnya di pagi hari ini. Selamat pagi buat ibu-ibu di Pulau Kulambing, Bangko-Bangkoang, Satando, Sapuli, Saugi, Sabutung, Salemo, dan pulau lainnya.”

Demikian suara seorang perempuan yang terdengar dari siaran Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM, yang mengudara pada suatu pagi awal Desember 2020. Beberapa saat kemudian, sang penyiar melanjutkan menyapa pendengar radio dalam acara Semangat Pagi.

Buat adik-adik, semangat juga dalam menjalankan aktivitasnya, jangan lupa belajar dan jaga kesehatan. Senang sekali rasanya saya, Risma, akan menemani anda di satu jam ke depan dalam acara semangat pagi. Sebelum lanjutkan acara, ada baiknya kita dengarkan lagu berikut ini.

Risma (19) yang bernama lengkap Kharisma adalah satu dari 10 penyiar baru yang ”dilahirkan” Sekolah Perempuan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, sebagai penyiar Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM. Mereka sama sekali tidak punya pengalaman di dunia radio, bahkan beberapa di antaranya adalah ibu-ibu korban perkawinan anak.

Radio yang dikelola para ibu dan perempuan anggota Sekolah Perempuan di kepulauan tersebut diluncurkan di tengah pandemi Covid-19 pada 25 November 2020. Uji coba sekaligus peluncuran radio itu juga dilakukan bertepatan dengan Peringatan Hari Antikekerasan terhadap Perempuan ke-16.

Radio yang diinisiasi oleh Institut Lingkaran Pendidikan Alternatif (Kapal Perempuan) bersama Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) Makassar dinamakan Sipurennu, yang dalam bahasa Bugis artinya senang atau gembira bersama. Siperennu juga jadi singkatan dari Sikolah (bahasa Bugis yang artinya sekolah) Perempuan Nusantara.

Sejak mengudara, radio ini seakan hadir sebagai pelipur lara para ibu dan perempuan yang selama ini tinggal di wilayah kepulauan yang terpisah dengan akses daratan di Pulau Sulawesi. Siperennu FM sekaligus menjadi sarana penambah wawasan bagi para perempuan kepulauan, mulai dari situasi Covid-19 hingga kesetaraan jender, dan menjadi sarana pembelajaran jarak jauh bagi para siswa di pulau.

Rosniati, Koordinator Program Radio Darurat Covid-19 di Pulau, mengungkapkan, sejak pandemi Covid-19, Sekolah Perempuan Pulau menerima beberapa aduan dari ibu-ibu yang kewalahan mengajar anaknya di rumah sehingga terjadi kekerasan dalam rumah tangga.

Melihat hal itu, Sekolah Perempuan Muda di pulau mulai membuka layanan tutorial buat anak-anak dengan mendatangi rumah anak tersebut untuk melakukan pendampingan belajar. Namun, anak-anak tetap menggunakan akses internet agar dapat terkoneksi dengan tugas-tugas sekolahnya.

”Sampai akhirnya kami menemukan media pembelajaran jarak jauh melalui radio yang biayanya amat murah karena tidak memerlukan kuota internet,” ujar Rosniati.

Kami menemukan media pembelajaran jarak jauh melalui radio yang biayanya amat murah karena tidak memerlukan kuota internet.

Bersama timnya, Rosniati mencari informasi tentang pendirian radio dengan menghubungi pihak terkait di Sulsel dan mengumpulkan 285 tanda tangan masyarakat Pulau Sabutung sebagai tanda dukungan mereka terhadap radio ini. Maka, akhirnya dilakukan peluncuran sekaligus uji coba radio tersebut yang dihadiri pejabat Pemerintah Kabupaten Pangkep.

Suasana peluncuran Radio Sipurennu FM pada akhir Nopember 2020. Ibu-ibu dan perempuan anggota Sekolah Perempuan Pulau di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menjadi penyiar Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM. Mereka sama sekali tidak punya mengalaman di dunia radio, bahkan beberapa di antaranya adalah ibu-ibu korban perkawinan anak.

Berbagai topik

Sejak mengudara, lebih dari dua bulan ini berbagai topik diangkat dalam program siaran Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM, seperti topik stop perkawinan anak yang mengangkat sejumlah testimoni korban perkawinan anak serta tinjauan kesehatan dampak dari perkawinan anak.

Ada juga topik tentang tips pengobatan tradisional yang memakai bahan-bahan alam yang selama ini banyak tersedia di wilayah kepulauan, seperti daun kelor dan daun bidara.

Sesuai namanya, Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM memiliki topik khusus tentang Informasi Covid-19 yang membagikan berbagai informasi terkait Covid-19 mulai dari tingkat dunia, nasional, hingga tingkat daerah, terutama situasi dan kondisi di wilayah Pangkep. Melalui siaran radio, para penyiar tak pernah berhenti mengingatkan para ibu agar tetap mematuhi protokol Covid-19 dengan menerapkan 3M (pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak).

Riska (17), misalnya, saat tampil sebagai penyiar untuk Program Informasi Covid-19 dengan suara khas dan dialek setempat, menyapa para pendengar radio: ”Hai pendengar setia Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM Pulau Sabutung, selamat siang, gimana nih kabarnya, semoga baik-baik saja, ya, sehat walafiat, dan yang pastinya tetap semangat. Senang sekali rasanya saya Riska bisa hadir menemani pendengar setia semua.”

Setelah mengirimkan lagu, Riska menyapa kembali pendengar radio dengan informasi Covid-19. Ia pun memaparkan, virus korona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan, yang menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga menyebabkan kematian.

Bahwa virus korona bisa menyerang siapa saja, seperti orang lanjut usia, orang dewasa, anak-anak dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Virus ini menular melalui percikan dahak dari saluran pernapasan.

Dia pun menjelaskan tiga gejala yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus korona, yaitu demam, suhu tubuh di atas 38 derajat celsius, batuk kering dan sesak napas. Selanjutnya, Riska pun membagikan tips 3 M agar terhindar atau tidak terinfeksi virus korona baru, SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Ibu-ibu dan perempuan anggota Sekolah Perempuan Pulau di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menjadi penyiar Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM. Mereka sama sekali tidak punya mengalaman di dunia radio, bahkan beberapa di antaranya adalah ibu-ibu korban perkawinan anak. Namun, sejak November 2020, mereka tampil sebagai penyiar radio.

Diminati masyarakat

Fitri Ramadani (22), Ketua Sekolah Perempuan Pulau Sabutung yang juga penyiar radio tersebut, mengungkapkan, peningkatan usaha ekonomi perempuan di masa pandemi Covid-19 juga jadi topik siaran, termasuk menyiarkan proses pemilihan kepala daerah. ”Siarannya banyak yang mendengar karena di sini memang tidak ada radio kayak begini,” ujar Fitri saat dihubungi, Selasa (12/1/2021).

Bahkan, selama pandemi, Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM mendukung pendidikan di pulau lewat Program Aggurung SD, Aggurung SMP, dan Aggurung SMA. ”Para guru kami ajak untuk menyiar sambil mengajar anak-anak di rumah. Biasanya, paling pagi guru SD, setelah itu pukul 10.00 guru SMP, dan pukul 11.00 guru SMA,” tutur Fitri yang menjadi penyiar Semangat Pagi.

Di luar siaran tersebut, radio tersebut juga membagikan kegembiran lewat siaran Rileks, Dongeng Anak, dan Bincang Perempuan. Bahkan, Misiyah, Direktur Institut Kapal Perempuan, pun mengisi siaran untuk Dongeng Anak dengan membacakan cerita bersambung berjudul ”Finding Nemo” (Menemukan Nemo).

Setelah uji coba siaran berlangsung sekitar dua pekan, sejak Desember lalu, siaran Radio Siperennu FM secara langsung untuk sementara dihentikan sambil menunggu izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kendati demikian, siaran radio tidak berhenti. Hingga kini, siaran radio disebarluaskan melalui media sosial, lewat podcast (siaran audio) yang direkam kemudian dipublikasikan lewat beberapa platform, seperti Anchor, Spotify, dan Google Podcast yang bisa diakses secara daring.

Bagi yang masyarakat di pulau, siaran tersebut kemudian diputar ulang dengan menggunakan pengeras suara di beberapa tempat di desa-desa. Meski baru beberapa bulan, kehadiran Radio Perempuan Darurat Covid-19 Sipurennu FM telah membawa pengaruh tersendiri bagi perempuan di pulau, apalagi pada masa pandemi saat ini.

Post a comment